Categories
Uncategorized

Pandangan Mereka Terhadap Prestasi Global

Sebagai orang Indonesia dan muslim yang minoritas di Amerika, Juhaeri tidak lantas dipandang sebelah mata. Justru dengan keahlian dan kecerdasannya, ia dipercaya memegang jabatan penting. “Toleransi dan keterbukaan ma syarakat Amerika sangat mengesankan. Mereka fair dalam urusan bisnis, pendidikan, dan kehidupan. Walau pun saya muslim dan minoritas, hal itu tidak melunturkan respek mereka terhadap saya,” kagumnya. Menurut Juheri, yang masih menjabat Adjunct Assistant Professor di UNC ini, ada empat hal yang membuat dirinya dipercaya memegang jabatan penting. Pertama adalah keahliannya. Bidang keahlian spesifik yang dimilikinya diakui bukan hanya di Amerika, te tapi juga di belahan dunia lainnya. Rekam jejaknya bisa dilihat dari publikasi-publikasi ilmiah yang mencantumkan namanya. Kang Ju pun tiap bulan diundang menjadi pembicara di ber bagai forum dunia, tetapi ia hanya mampu memenuhinya dua bulan sekali.

Kemudian dari segi kepemimpinan, Juhaeri memiliki gaya yang tegas dalam memformulasi tujuan. Peneliti ber pengalaman lebih dari 20 tahun di bidang epidemiologi ini mampu membangun koalisi kerja tim yang terkadang harus dikerjakan antarinstansi. Kemudian ia juga mampu berkomunikasi secara efektif untuk membangun tim. “Bagusnya orang di Amerika, mereka tidak lihat suku, ras, agama, latar be lakang pendidikan. Mereka tidak peduli, mereka buta untuk hal-hal seperti itu. Yang penting, kita buktikan rekam jejak yang kita punya baik itu di perusahaan, akademisi, pemerintahan, dan apapun itu yang tidak hanya di Amerika, tapi juga di belahan dunia lain nya,” komentar pria yang tahun lalu terbang sekitar 120 ribu mil untuk melancong ke 15 negara.

Gaya Kepemimpinan

Sebagai pemimpin, Juhaeri memiliki gaya kepemimpinan tersendiri. Menurut nya, suatu teamwork bukanlah one size fit all jadi semua harus menghargai kekurangan dan kelebihan masingmasing. “Dalam tim itu tidak ada yang sempurna. Kalau ada kekurangan, jangan anggap itu sebagai masalah dan optimalkan kelebihan yang ada,” terang nya. Jadi, pemimpin harus jeli dalam melihat kekurangan dan kelebihan timnya sehingga tidak ada pemaksaan untuk individu yang bukan di bidangnya, dan pastinya juga harus bisa mengoptimalkan kelebihan tiap individual. Kemudian, hormati perbedaan tiap anggota tim dan sebagai pemimpin juga harus jelas dalam memberi arahan. “Kita harus bisa ambil keputusan yang tepat kemudian adaptasi seperlunya. Situasi kadang-kadang berubah jadi kita juga harus berubah haluan,” katanya.

Pemimpin juga harus memiliki kemampuan komunikasi sehingga segala keputusan yang diambil harus jelas serta transparan. Ayah dua putri ini mendefinisikan pemimpin berdasarkan konflik yang diselesaikannya. “Pemimpin tidak akan pernah belajar menjadi pemimpin yang baik kalau tidak pernah menghadapi dan menyelesaikan konflik,” papar Kang Ju yang hobi mancing ini. Sebaiknya penyelesaian konflik dilaku kan secara frontal, langsung, dan secepatnya. “Bicarakan masalahnya secara jelas. Kemudian, kumpulkan pelaku-pelaku yang terlibat,” paparnya. Setelah itu, formulasikan solusinya secara jelas di hadapan semua pelaku dan definisikan juga konsekuensinya. Jika solusi tidak bisa dijalankan, maka akan ada konsekuesinya.

Setelah seminggu atau dua minggu dari diskusi pertama, pemimpin harus menindaklanjuti untuk mengetahui apakah ada perkembangan dalam penyelesaiannya. Bila perkembangannya bagus, maka programnya terus dilanjutkan. Namun, bila tidak ada perkembangan, solusinya dimodifikasi supaya menemukan jalan keluar yang lebih tepat. “Intinya, sebagai pemimpin itu harus tegas, jelas, bertindak cepat dan tepat, dan juga transparan,” simpul Juhaeri yang berencana menjelajah Indonesia selama satu tahun sembari menulis buku pada masa pensiunnya.