Categories
Uncategorized

Budidaya Udang dan Pariwisata Bisa Bersinerg

Meski baru membuka tambak sendiri, Taufik sudah aktif berperan serta dalam ke giatan Forum Komunikasi Praktisi Akuakultur (FKPA) Lampung sejak awal berdiri pada 20 Agustus 2007. Ia lantas terpilih menjadi Ketua FKPA untuk masa bakti 2014-2017 menggantikan Hanung Hernadi, ketua periode sebelumnya yang men jabat selama dua periode. Di bawah kepemimpinannya, FKPA meng gaet 150-an anggota dari 97 grup tambak udang yang tersebar di Lampung dan Bengkulu dengan luas 804 ha atau 2.296 kolam. Produksi udang anggota FKPA sekitar 20 ribu ton/tahun. Selain mensupervisi teknis budidaya, Ketua FKPA ini juga mumpuni dalam merancang areal pertambakan.

Misalnya, ia selalu menyisakan green belt (pagar hijau) berupa hutan bakau sebagai media penahan abrasi dan tempat berkembang biak berbagai biota laut yang berfungsi menetralisir pencemaran dan penyakit akibat budidaya udang. “Walaupun arealnya sempit, usahakan tetap menyisakan areal pinggir pantai untuk green belt bagi kelestarian hutan bakau. Sebab keberadaan bakau di pinggir pantai memberi manfaat banyak bagi kelanjutan usaha budidaya,” ia beralasan. Karena itu tambak-tambak yang dirancang Taufik mudah diketahui dengan adanya hutan bakau di depan tambak yang tampak lestari. Sehingga, areal pertambakan tersebut terkesan bukan di pinggir pantai.

Saat ini areal pertambakan Taufik dan lainnya belum dilengkapi tandon peng olah an air. Agar air limbah tidak mencemari lingkung an, areal tambak dibangun instalasi pengolahan limbah. Di samping itu, pria bertubuh tegap ini pun me ning katkan biosekuriti tambak. Karena, baik di pesisir barat Lampung maupun di Bin tu han, Bengkulu Selatan mulai muncul pe nyakit myo (Infectious Myo Necrosis Virus, IMNV). Ia memperkirakan penyakit ini terbawa kendaraan yang masuk areal tambak tanpa disterilisasi dengan disinfektan. “Sebab bisa saja kendaraan tersebut sebelumnya kembali dari areal pertambakan di kawa s an lain yang sudah terjangkit myo,” ulasnya. Guna memutus penularan myo, pengeringan tambak dilakukan serentak selama dua bulan. Pembudidaya sepakat membangun tandon pengolah limbah. Selain itu, Taufik mendirikan areal parkir kendaraan pengangkut udang dan pakan agar tidak masuk ke pinggir kolam. Dengan be gitu penularan penyakit melalui kenda raan yang datang dari luar bisa dicegah.

Tata Ruang

Dalam mengembangkan budidaya udang di pantai barat, suami Astuti ini mengaku masih ada sejumlah persoalan yang perlu segera dituntaskan. Salah satu nya, tata ruang untuk budidaya dan pariwisata. Ia berharap, areal tambak di Kec. Ngambur, Pesisir Selatan dan Lemong bisa bersinergi dengan sektor pariwisata, seperti di Teluk Lampung. Kedua kegiatan ini bisa berjalan bersama tanpa ada pihak yang dirugikan. Jika budidaya udang berkembang, tentu akan mendukung kegiatan pa riwisata karena pelaku bisnis di sektor ini juga membutuhkan sarana pariwisata seperti, restoran atau rumah makan dan hotel. “Para sales pakan, benur, dan obat-obatan, teknisi, bahkan pihak terkait lainnya tentu butuh rumah makan dan penginap an selama berada di pesisir barat.

Jadi, bisnis pariwisata akan lebih cepat berkembang jika ada bisnis lainnya yang mendukungnya,” Taufik berpendapat. Bahkan ke depan, sambungnya, bisa saja dibangun beberapa areal tambak wisata. Pengunjung bisa melihat secara langsung proses budidaya udang dari awal sampai panen hingga menikmati ber bagai kuliner berbahan baku udang. “Bu di daya udang pun sebetulnya bisa dija dikan tujuan wisata. Sehingga, keberadaan kami bisa mendukung dan mempercepat majunya sektor pariwisata di pesisir barat,” tambahnya optimistis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *