Categories
Uncategorized

Kualitas Bibit Tidak Terjamin

Nurfaudin merunut permasalahan mahalnya biaya produksi kentang di Dieng terletak pada mahalnya bibit dan serangan penyakit. Menurut ca tatannya harga bibit kentang pada 2014 – 2016 berturut-turut: Rp15 ri bu, Rp25 ribu, dan Rp16 ribu/kg. Namun tahun ini melonjak menjadi Rp35 ribu/kg. “Bahkan sudah ada yang membeli Rp48 ribu/kg,” paparnya heran. Dugaan dia, meroketnya harga bibit 2017 akibat pe nyu sutan lahan penangkaran yang di picu hancurnya harga ken tang konsumsi 2016.

Dengan harga Rp35 ribu/kg, maka biaya bibit satu hektar lahan Rp70 ju ta. Memang anjurannya jumlah benih 1,51,6 ton/ha, tapi prak tik petani setempat sampai 2 ton/ha. Fluktuasi dan mahalnya harga bibit kentang tersebut selalu di luar jang kauan kekuasaan tangan petani. “Kita ti dak tahu penyebabnya,” terang Nurfaudin yang diamini Sarif Afandi, Ketua Ke lom pok Tani Kentang Arga Makmur, juga di Kejajar. Keduanya menjelaskan, 60% kebutuhan bibit kentang di Wonosobo yang mencapai 6.000 ton per musim tanam disuplai dari Jawa Barat dan 40% dari hasil seleksi petani sendiri. “Kualitas dan harga bibit yang dari Jawa Barat kita tidak tahu.

Semua bergantung pedagang dan penangkar di Jawa Barat. Meskipun sudah berlabel (bersertifikat), ternyata juga banyak yang gagal,” tegas Sarif. Sedangkan penanaman bibit dari hasil panen sendiri membuat lingkaran pe nya kit tidak terputus. “Di dalam umbi terjadi akumulasi penyakit virus dan nonvirus. Penyakit yang dulu menyerang induknya akan diteruskan ke keturunannya,” jelas Adhi Nurcholis, M.Sc, peneliti relawan yang peduli terhadap perbenihan ken tang di Wonosobo. Inilah biang kerok pe nurunan kualitas tanaman kentang secara terus menerus. Akibatnya, produktivitas turun dan aplikasi pestisida pun semakin banyak. Karena itu lulusan pascasarjana UGM dengan konsentrasi kultur jaringan ini meminta pemerintah untuk melakukan pembinaan dan pemberdayaan penangkar benih kentang di kawasan Wonosobo. Terlebih dengan benih spesifik lokal supaya hasil yang diperoleh lebih optimal. Adhi yang tengah meneliti varietasvarietas kentang lokal di Dieng ini menyatakan, jangankan berasal dari daerah berbeda, seperti di Jawa Barat, bibit lokal di satu wilayah Dieng saja menghasilkan produktivitas berbeda bila ditanam pada ketinggian yang berbeda. Misalnya varietas MZ ternyata lebih baik dibudida dayakan pada ketinggian 1.500 m dpl. Hal itu pula yang mungkin menyebabkan bibit kentang yang telah bersertifikat pun masih berpotensi tidak optimal apabila dibudidayakan di Dieng.

Penyakit Masih Menghantui

Dalam budidaya kentang, penyakit termasuk tantangan utama bagi petani. Jenis penyakit yang sering mengganyang tanaman kentang adalah busuk daun Phytophthora dan layu bakteri. Tingkat kegagalan akibat serangan cendawan Phytophthora infestans dapat mencapai 80% dan layu bakteri Ralsonia solanacearum bisa sampai 100%. “Petani rata-rata harus menyemprot dengan pestisida dua hari sekali sampai umur 70 hari agar bisa panen. Terlebih dengan musim yang tidak menentu seperti ini, harus lebih waspada,” beber Sarif. Selain dua jenis pengganggu itu, virus penggulung daun (Potato Leaf Roll VirusPLRV) juga mengancam. Virus terbawa bibit ini diperkirakan menye babkan penurunan produksi berkisar 10%20%. Perma salahan yang muncul terkait dengan pengendalian penyakit ini adalah petani tidak menge tahui dengan detail penyakit yang menyerang dan pestisida yang sesuai. “Padahal setiap minggu pasti ada merek baru,” cerita Sarif.

Tidak adanya bekal ilmu tentang cara pengendalian organisme pengganggu tanaman ini bikin biaya bengkak dan tidak efisien. Anggaran pembelian pestisida saat ini mencapai se kitar Rp15 juta/ha dan biaya aplikasi Rp160 ribu per penyemprotan. Problem penyakit ini semakin diper pa rah dengan aplikasi pupuk kotor an ayam (chicken manure (CM) yang ber lebihan. Pupuk ini digenjot penggu na an nya karena lahan Dieng yang terus mene rus ditanami kentang tanpa jeda meng alami kekurangan hara. Namun, di sisi lain CM ternyata juga menjadi rumah berma cam-macam organisme penyebab pe nya kit. Petani Dieng rata-rata membe lanjakan Rp10 juta/ha untuk mendapat kan CM. Karena itu petani mengharapkan pemerintah segera bergerak meluncurkan program penangkaran benih bagi petani lokal dan memberikan pemahaman tentang penggunaan pestisida yang benar demi keberlangsungan budidaya kentang di kawasan Dieng. “Kita berharap bibit kentang dapat stabil di kisaran Rp17 ribu/kg. Dengan harga seperti itu, petani akan bisa jalan,” pungkas Nurfaudin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *